Sepuluh kebun di tanah FloresTen gardens in the land of Flores
Sejak akhir 2025, perempuan di sepuluh desa di Flores membangun kebun pangan bersama. Ini catatan tentang apa yang tumbuh, apa yang sulit, dan apa yang mereka pelajari.Since late 2025, women in ten villages across Flores have been building food gardens together. This is a record of what grew, what was hard, and what they learned.
Tim Kebun Pangan PerempuanKebun Pangan Perempuan team20 Oktober 202620 October 2026 · 3 menit baca3 min read

Di Flores, orang menyebutnya Kebun Mama. Namanya sederhana, dan memang begitu niatnya: kebun milik para mama, dikerjakan bersama, dan hasilnya untuk makan keluarga lebih dulu.In Flores, people call it Kebun Mama, the mothers' garden. The name is simple, and so is the intent: a garden that belongs to the mothers, worked together, with the harvest feeding families first.
Programnya dijalankan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari bersama Amati Indonesia, dan dimulai dari ruang belajar, bukan dari cangkul. Pada akhir 2025, 39 peserta dari sepuluh desa di tujuh kabupaten mengikuti lokakarya kebun permakultur selama empat sampai enam hari. Mereka memetakan kebun dan pangan lokal di desa masing-masing, belajar membuat pupuk dan kompos, lalu pulang membawa rancangan kebun yang bisa langsung dikerjakan.The programme is run by the Environmental Bamboo Foundation (Yayasan Bambu Lingkungan Lestari) with Amati Indonesia, and it started in a classroom rather than with a hoe. In late 2025, 39 participants from ten villages in seven regencies joined a permaculture garden workshop lasting four to six days. They mapped the gardens and local foods of their own villages, learned to make fertiliser and compost, and went home with a garden design they could start on straight away.

Sepuluh desa, tujuh kabupatenTen villages, seven regencies
Kebun-kebun itu kini tersebar dari barat sampai timur Flores: Watu Galang di Manggarai Barat, Belang Turi di Manggarai, Golo Loni dan Watu Nggene di Manggarai Timur, Wogo di Ngada, Wolowea di Nagekeo, Rateroru dan Detuena di Ende, serta Tekaiku dan Wolokoli di Sikka. Setiap kebun dikelola satu kelompok beranggotakan sepuluh sampai dua puluhan orang, dan hampir semuanya perempuan.The gardens now stretch from the west of Flores to the east: Watu Galang in West Manggarai, Belang Turi in Manggarai, Golo Loni and Watu Nggene in East Manggarai, Wogo in Ngada, Wolowea in Nagekeo, Rateroru and Detuena in Ende, and Tekaiku and Wolokoli in Sikka. Each garden is run by a group of ten to twenty-odd members, nearly all of them women.
Mulainya kecil. Prinsip yang dipegang sejak lokakarya: kebun menyesuaikan diri dengan tempatnya, dimulai dari yang paling dibutuhkan, lalu tumbuh pelan-pelan.They started small. The principle carried from the workshop was simple: the garden adapts to its place, begins with what is needed most, and grows slowly from there.
Di Watu Nggene, kebun dipagari tanaman hidup dari gamal dan bambu supaya sapi dan kambing tidak masuk. Di Wolowea, para mama menata bedengan mereka sendiri; salah satunya dibentuk menyerupai nama kelompok mereka, Delima.In Watu Nggene, the garden is ringed by a living fence of gliricidia and bamboo to keep cattle and goats out. In Wolowea, the mothers laid out their own beds; one of them is shaped to spell the name of their group, Delima.


Panen pertamaThe first harvest
Tiga bulan kemudian, kebun mulai memberi. Di Tekaiku, Sikka, kelompok menanam pada 18 Desember 2025 dan memanen pertama kali pada 10 Maret 2026, di lahan pasir berkemiringan sekitar 30 derajat yang ditata berteras dengan bambu.Three months later, the gardens began to give. In Tekaiku, Sikka, the group planted on 18 December 2025 and took its first harvest on 10 March 2026, on sandy land with a slope of about 30 degrees, terraced with bamboo.
Cara membagi hasil disepakati tiap kelompok. Di Rateroru, panen lebih dulu dibagi rata kepada anggota, lalu sisanya dijual. Di Wolokoli, hasil dibagi tiga: dimakan, dijual, dan disimpan sebagai benih untuk musim berikutnya.Each group agrees how the harvest is shared. In Rateroru, it is first divided equally among members and the rest is sold. In Wolokoli, it is split three ways: eaten, sold, and kept as seed for the next season.

Dari kebun ke hak atas hutanFrom gardens to forest rights
Pada Mei 2026, cerita kebun bergeser ke soal yang lebih besar: hak perempuan atas lahan. Kementerian Kehutanan menerbitkan enam surat keputusan perhutanan sosial khusus untuk kelompok perempuan di Manggarai Barat, Manggarai Timur, Manggarai, dan Sikka. Luasnya 648,65 hektare dan dikelola 335 orang, 93 persen di antaranya perempuan.In May 2026, the garden story turned to a larger question: women's rights to land. The Ministry of Forestry issued six social forestry permits specifically for women's groups in West Manggarai, East Manggarai, Manggarai and Sikka. They cover 648.65 hectares and are managed by 335 people, 93 percent of them women.
Kepastian lahan membuat rencana jangka panjang masuk akal: bambu, pohon buah, dan tanaman lain yang baru memberi hasil bertahun-tahun kemudian.Secure land makes long-term plans worth making: bamboo, fruit trees and other plants that only pay back years later.

Yang masih sulitWhat is still hard
Tidak semua berjalan mulus, dan laporan program menuliskannya terus terang. Air menjadi tantangan di banyak kebun: Wolowea berlahan kering, Tekaiku bergantung pada hujan, dan angin kencang di Wolokoli menyulitkan sayuran. Hama datang silih berganti. Akses ke pasar lokal masih terbatas di tujuh dari sepuluh desa, dan jalan ke banyak kebun sulit dilalui. Sebagian kelompok juga masih bergantung pada pupuk kimia dan butuh waktu untuk beralih ke cara organik.Not everything went smoothly, and the programme report says so plainly. Water is a challenge at many gardens: Wolowea's land is dry, Tekaiku depends on rain, and strong winds in Wolokoli make vegetables hard to grow. Pests come and go. Seven of the ten villages still have limited access to local markets, and the roads to many gardens are hard going. Some groups still depend on chemical fertiliser and need time to move to organic methods.
Langkah berikutnyaWhat comes next
Untuk 2026 dan 2027, tim program merencanakan beberapa langkah: memperkuat kepemimpinan perempuan sebagai kader kebun, menghubungkan setiap kebun dengan posyandu terdekat, membuka laboratorium kebun di tingkat kabupaten sebagai tempat belajar dan berkonsultasi, serta mendorong hasil kebun dipakai untuk makanan tambahan di posyandu.For 2026 and 2027, the programme team has planned several steps: building women's leadership as garden cadres, linking every garden with its nearest Posyandu health post, opening garden laboratories at regency level as places to learn and seek advice, and encouraging the use of garden produce for supplementary feeding at the Posyandu.
Kebun-kebun di Flores juga menjadi bahan belajar bagi daerah lain. Kebun dengan model serupa mulai dibangun di Kampung Talang, Padang, dan perluasan ke Maluku Utara sedang disiapkan.The Flores gardens have also become a lesson for other regions. A garden on the same model is being built in Kampung Talang, Padang, and expansion to North Maluku is being prepared.
Kebun Mama tidak lahir dari satu rancangan besar. Ia tumbuh dari bedengan kecil yang dirawat bergiliran, dari panen pertama yang dibagi rata, dan dari keyakinan bahwa makan yang kita tanam adalah awal dari banyak hal lain.Kebun Mama did not come from one grand design. It grew from small beds tended in turns, from a first harvest shared out equally, and from the belief that eating what we grow is where many other things begin.
Foto: dokumentasi program Kebun Mama.Photos: Kebun Mama programme documentation.
SumberSources
- Laporan program “Kebun Pangan Perempuan: Transformasi dan Perkembangan Program, Kebun Mama di 7 Kabupaten, Nusa Tenggara Timur”
- ANTARA, 7 Mei 2026: Kemenhut terbitkan enam SK Perhutanan Sosial khusus perempuan di NTT
- ANTARA, 28 September 2026: Perempuan didorong jadi penggerak ketahanan pangan lewat Kebun Pangan
- Mongabay Indonesia, 17 Mei 2026: Upaya mama-mama Manggarai berdaulat pangan sampai konservasi lahan
- YBLL, Januari 2026: Membangun kebun pangan perempuan (Watu Nggene)
- YBLL, 2026: Kisah perempuan Rateroru, dari bedengan ke pasar
- YBLL, Januari 2026: Membangun kebun pangan perempuan (Wolowea)
- YBLL, Agustus 2026: Perjuangan kelompok tani Wolokoli jaga ketahanan pangan

