Ketika gempa datang, kebun yang memberi makanWhen the earthquake came, the gardens fed people
Gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Agustus 2026. Di beberapa desa, sayur dari kebun pangan perempuan menjadi bahan makanan di dapur umum.A magnitude 7.7 earthquake struck Flores in August 2026. In several villages, vegetables from the women's food gardens went into the community kitchens.
Tim Kebun Pangan PerempuanKebun Pangan Perempuan team20 Oktober 202620 October 2026 · 2 menit baca2 min read

Pada 15 Agustus 2026, gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, hingga 30 Agustus, 111 orang meninggal dan lebih dari 188 ribu orang mengungsi.On 15 August 2026, a magnitude 7.7 earthquake struck the island of Flores. By 30 August, Indonesia's National Disaster Management Agency had recorded 111 deaths and more than 188,000 people displaced.
Di Desa Belang Turi, Manggarai, lebih dari lima puluh rumah modern rusak. Rumah panggung kayu milik salah satu mama tetap kokoh. Kebun pangan perempuan juga selamat, dan sayurnya sedang siap panen dalam jumlah banyak.In Belang Turi village, Manggarai, more than fifty modern houses were damaged. A wooden stilt house belonging to one of the mothers stood firm. The women's food garden survived too, with a large crop of vegetables ready to harvest.
Sayur segar, bukan mi instanFresh vegetables, not instant noodles
Bantuan darurat biasanya datang dalam bentuk makanan kemasan dan mi instan. Di Belang Turi, Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Amati Indonesia, dan pemerintah desa memilih jalan lain. Mereka membeli sayur segar, keladi, dan ternak dari warga, lalu memasaknya di dapur umum. Pakcoy, sawi, wortel, buncis, dan labu dari kebun para mama menjadi masakan lokal bagi para penyintas.Emergency aid usually arrives as packaged food and instant noodles. In Belang Turi, the Environmental Bamboo Foundation, Amati Indonesia and the village government chose another way. They bought fresh vegetables, taro and livestock from residents and cooked them in the community kitchens. Bok choy, mustard greens, carrots, green beans and pumpkin from the mothers' garden became local dishes for the survivors.
Awalnya hasil kebun memasok dua dapur umum. Mama Yuyun dan Mama Ona dari kelompok meminta agar bantuan tidak berhenti di situ: masih ada 18 dapur umum lain yang juga perlu merasakan makanan lokal ini. Rencana perluasan ke 18 dapur pun disusun.At first the garden supplied two community kitchens. Mama Yuyun and Mama Ona from the group asked that help not stop there: 18 other community kitchens also needed to taste this local food. Plans were then made to extend to all 18.
Hasil kebun kemudian kembali dibeli dan dibagikan dalam besek bambu, berisi buncis, wortel, pakcoy, sepuluh butir telur, dan tempe.Garden produce was bought again and handed out in woven bamboo baskets of green beans, carrots, bok choy, ten eggs and tempeh.

Dari Rateroru ke tenda pengungsianFrom Rateroru to the shelter tents
Di Kabupaten Ende, kelompok perempuan Rateroru memanen sawi dan terung pada 7 September. Empat karung sawi dan lebih dari satu karung terung dikirim ke dapur pengungsian di Wolowae, Nagekeo, tempat gempa memutus pasokan pangan.In Ende Regency, the Rateroru women's group harvested mustard greens and eggplant on 7 September. Four sacks of greens and more than a sack of eggplant were sent to the shelter kitchens in Wolowae, Nagekeo, where the earthquake had cut off food supplies.
Sayur itu dibeli langsung dari para mama dengan dana donasi. Nilainya satu juta rupiah, dan sebenarnya lebih, karena para mama memberi potongan harga dan menambah timbangan.The vegetables were bought directly from the mothers with donated funds. They were worth one million rupiah, and in truth more, because the mothers gave a discount and added extra weight.
“Kami sedang panen sayur terong, pakcoy, pohonnya besar-besar.”“We are harvesting eggplant and bok choy, the plants are big.”
Pelajaran dari masa daruratLessons from the emergency
Ada tiga hal yang terlihat dari minggu-minggu itu. Pertama, kebun pangan warga bisa menjadi sumber sayur segar ketika pasokan pangan di daerah bencana terganggu, baik untuk desanya sendiri seperti Belang Turi maupun untuk desa lain seperti Wolowae. Kedua, membeli dari kebun warga membuat uang tetap berputar di desa, tepat ketika keluarga paling membutuhkannya. Ketiga, makanan lokal yang bergizi lebih cocok untuk masa pemulihan daripada makanan instan.Three things stood out from those weeks. First, community gardens can supply fresh vegetables when food supplies in a disaster area are disrupted, both for their own village, as in Belang Turi, and for others, as in Wolowae. Second, buying from residents' gardens keeps money circulating in the village just when families need it most. Third, nutritious local food suits recovery better than instant food.
Bab V Pedoman Umum Kebun Pangan Perempuan menjelaskan bahwa ketangguhan kebun tidak berarti kebun tidak pernah rusak, melainkan kemampuan komunitas menghadapi gangguan dan bangkit kembali. Agustus 2026 memperlihatkan arti kalimat itu di lapangan.Chapter V of the General Guidelines for Women's Food Gardens explains that a garden's resilience does not mean it is never damaged, but that the community can face disruption and recover. August 2026 showed what that means on the ground.
Foto: dokumentasi program Kebun Mama.Photos: Kebun Mama programme documentation.
SumberSources
- Mongabay Indonesia, 11 September 2026: Belajar dari bencana NTT, bagaimana dorong bangun rumah tahan gempa (mengutip BNPB)
- YBLL, Agustus 2026: Dari kebun pangan ke dapur pengungsian, menghadirkan nutrisi pangan lokal di tengah bencana Manggarai
- YBLL, 14 September 2026: Segar dari kebun, sampai ke tenda penyintas
- Pedoman Umum Kebun Pangan Perempuan, Bab V

