Dari bedengan ke pasar desaFrom the beds to the village market
Uangnya belum besar. Tetapi bagi kelompok yang baru menanam beberapa bulan, hasil penjualan pertama berarti benih baru, kas bersama, dan rasa percaya diri.The money is not large yet. But for groups only a few months into planting, the first sales mean new seed, a shared fund, and confidence.
Tim Kebun Pangan PerempuanKebun Pangan Perempuan team20 Oktober 202620 October 2026 · 2 menit baca2 min read

Panen rutin pertama di Rateroru, Kabupaten Ende, datang setelah Paskah 2026. Dari delapan bedengan, dua hari panen menghasilkan 375 tanaman: pakcoy, sawi, dan kacang panjang. Hasilnya lebih dulu dibagi rata kepada 15 anggota, lalu sisanya dijual.Rateroru's first regular harvest, in Ende Regency, came after Easter 2026. Two days of picking from eight beds produced 375 plants: bok choy, mustard greens and long beans. The harvest was first shared equally among the 15 members, then the rest was sold.
“Beberapa hari ini kita sudah masuk fase panen rutin.”“These past few days we have entered the regular harvest phase.”
Hari pertama setelah Paskah, penjualan mencapai Rp300.000. Pada 10 April, penjualan di kebun mencapai Rp280.000. Dua ikat pakcoy dijual Rp5.000, begitu juga satu pohon sawi. Pagi itu Mama Ros membawa sayur ke pasar dan pulang dengan sekitar Rp100.000.On the first day after Easter, sales reached Rp300,000. On 10 April, sales at the garden came to Rp280,000. Two bundles of bok choy sold for Rp5,000, as did a single mustard green plant. That morning, Mama Ros took vegetables to market and came home with about Rp100,000.
Watu Galang: kas untuk benihWatu Galang: a fund for seed
Di Watu Galang, Manggarai Barat, kelompok perempuan Wela Nara beranggotakan sepuluh orang. Kebun mereka berbatasan dengan hutan Mbeliling, dan airnya dialirkan dari mata air Wae Betong melalui bambu. Mereka menanam sawi, tomat, kacang panjang, wortel, kangkung, dan pakcoy.In Watu Galang, West Manggarai, the Wela Nara women's group has ten members. Their garden borders the Mbeliling forest, with water piped through bamboo from the Wae Betong spring. They grow mustard greens, tomatoes, long beans, carrots, water spinach and bok choy.
“Hasil penjualan sudah terkumpul Rp6.000.000. Uangnya akan kami gunakan untuk membeli bibit tanaman lagi,”“Our sales have reached Rp6,000,000. We will use the money to buy more seedlings,”
Kelompok ini juga memilih tetap organik.The group has also chosen to stay organic.
“Kami konsisten gunakan pupuk dan pestisida organik sebab ramah lingkungan.”“We consistently use organic fertiliser and pesticide because they are environmentally friendly.”


Tekaiku dan Wolokoli: kas bersamaTekaiku and Wolokoli: a shared fund
Di Tekaiku, Sikka, kas kelompok terkumpul sekitar Rp400.000. Air bersih di sana harus dibeli, dan hasil kebun membantu membayarnya.In Tekaiku, Sikka, the group's fund has reached about Rp400,000. Clean water there has to be bought, and the garden helps pay for it.
“Kami menjual hasil kebun dari kawasan hutan dan bambu untuk bisa membeli air bersih.”“We sell produce from the forest and bamboo area so we can buy clean water.”
Di Wolokoli, para mama bekerja di kebun setiap Sabtu. Hasilnya dibagi tiga: dimakan, dijual, dan disimpan sebagai benih. Penjualan mencapai Rp640.000, dan sekitar Rp200.000 masuk kas kelompok.In Wolokoli, the mothers work the garden every Saturday. The harvest is split three ways: eaten, sold, and kept as seed. Sales reached Rp640,000, with about Rp200,000 going into the group fund.
Pasar yang masih sempitA market that is still narrow
Angka-angka ini kecil, dan memang belum cukup untuk disebut usaha. Laporan program mencatat tujuh dari sepuluh desa masih punya akses terbatas ke pasar lokal. Jalan sulit, pasar hanya mingguan, dan sebagian kelompok belum punya cara mengolah hasil panen supaya lebih awet dan bernilai.These are small figures, and not yet enough to call a business. The programme report notes that seven of the ten villages still have limited access to local markets. Roads are difficult, markets are weekly, and some groups have no way yet to process their harvest so it keeps longer and earns more.
Ada juga peluang. Watu Nggene berada di jalur wisata Padang Mausui. Detuena dekat Danau Kelimutu dan punya dua pasar mingguan. Wogo berada di belakang kampung adat dan desa wisata. Rencana tim program untuk 2027 mencakup koperasi Kebun Pangan Perempuan dan pasar daring yang menghubungkan kebun dengan pembeli.There are openings too. Watu Nggene lies on the Padang Mausui tourist route. Detuena is near Lake Kelimutu and has two weekly markets. Wogo sits behind a customary village and a tourism village. The programme team's plans for 2027 include a Women's Food Garden cooperative and an online marketplace linking gardens with buyers.
Untuk saat ini, ukuran keberhasilannya sederhana: uang dari kebun kembali ke kebun, dan keputusan tentang uang itu diambil oleh para mama sendiri.For now, the measure of success is simple: money from the garden goes back into the garden, and the mothers themselves decide how it is used.
Foto: dokumentasi program Kebun Mama.Photos: Kebun Mama programme documentation.
SumberSources
- YBLL, 2026: Kisah perempuan Rateroru, dari bedengan ke pasar
- Mongabay Indonesia, 17 Mei 2026: Upaya mama-mama Manggarai berdaulat pangan sampai konservasi lahan
- YBLL, Agustus 2026: Perjuangan kelompok tani Wolokoli jaga ketahanan pangan
- Laporan program “Kebun Pangan Perempuan: Transformasi dan Perkembangan Program, Kebun Mama di 7 Kabupaten, Nusa Tenggara Timur”: ekonomi dan peta jalan

